Ada yang beda dalam peringatan Hari Santri dan Maulid Nabi Muhammad kali ini (Kamis, 22/10) karena pandemi covid-19, MAN 1 Tulungagung melaksanakannya secara luring terbatas di ruang Student Center yang dihadiri oleh perwakilan siswa dan guru.
Hari Santri merupakan momentum untuk kembali mengingat perjuangan kalangan santri dalam mempertahankan NKRI. Pada tanggal 22 Oktober 2020, K.H. Hasyim Asy’ari membacakan seruan yang beisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.
“Mengenakan sarung bagi siswa & guru pada peringatan Hari Santri ini bukan sekadar sebagai identitas fisik santri, namun lebih untuk menghayati dan meneladani semangat K.H. Hasyim Asy’ari dan para santri saat berjuang mempertahankan NKRI” ujar Drs. H. Slamet Riyadi, M.Pd, Kepala MAN 1 Tulungagung dalam sambutannya.
Meski dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan covid-19, antusiasme para siswa dan guru tetap tinggi. Para siswa yang tidak dapat mengikuti langsung secara luring di ruang Student Center, tetap dapat terlibat mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui streaming zoom dari layar proyektor di kelas masing-masing.
Peringatan Hari Santri tahun ini sekaligus sebagai agenda peringatan Maulid Nabi Muhammad. Oleh karena itu, selain menggelar khotmil Quran, tausiyah (ceramah), dan pembacaan selawat barzanji.
Dalam tausiyah yang disampaikan oleh K.H. Fathulloh menceritakan kisah yang mengharukan tentang kecintaan para sahabat Nabi Muhammad. Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat. Rasulullah SAW telah jatuh sakit sehingga keadaan beliau sangat lemah. Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah masjid dengan para sahabat. Mereka rindu taushiyah dari Rasulullah SAW. Beliau duduk dgn lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah SWT. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan berhutang dengan manusia.”
Semua sahabat yang hadir terdiam. Dalam hati mereka berkata, “Justru kamilah yang banyak berhutang padamu ya Rasul”. Namun, tiba-tiba Ukasyah bangun dan mengatakan bahwa dirinya secara tak sengaja terkena cambuk yang diayunkan Rasulullah ke belakang kudanya saat perang Uhud.
Mendengar hal tersebut Rasulullah meminta Bilal untuk mengambil cambuk di rumahnya dan diberikan kepada Ukasyah untuk mencambuk Rasulullah. Melihat hal itu, para sahabat berusaha menghalangi Ukasyah yang akan mencambuk Rasulullah.
Ukasyah menghambur menuju Rasulullah. Cambuk yang di tangannya ia buang. Dipeluknya tubuh Rasulullah seerat-eratnya seraya menagis Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah, ampuni aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukan ini agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena engkau pernah mengatakan “Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya. Seumur hidupku aku bercita-cita 2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.”
Dari kisah dalam tausiyah tersebut tercermin betapa besar kecintaan sahabat pada Rasulullah. Melalui peringatan Hari Santri, sebagai warga negara Indonesia kita teladani semangat nasionalisme K.H. Hasyim Asy’Ari. Dan dari Maulid Nabi, kita perkuat kecintaan terhadap Rasulullah. Santri Sehat Indonesia Maju.